Hallow, sheila here! Yap kita ketemu lagi setelah sekian lama nggak buka blogger. Postingan terakhir kemarin aku masih berstatus "maba" ditahap semester 2 but now, I'm in 3rd semester. Ayayaa udah jadi senior. Iya, jadi SENIOR! Senior kecil tepatnya karna badanku tak kunjung gede. Uhuhu.. mulai dari tahun lalu dikira petugas pendaftaran kampus aku anak SMP nyasar sampeeee sekarang, ketika ospek maba 2014 banyak maba yg takjub ngeliat gue berbalut almamater dan berdiri di pojokkan. And well, teteeep aja yah.. berbadan segini.
Oke, tadi cuma intro aja dan inilah sebuah kisah dari judul diatas. Bermula dari temenku sekelas yg ikut paduan suara minta tolong aku untuk jadi partner desainnya dalam rangka dies natalis paduan suaraku yg ke 23. Aku sih oke aja karna kita sesama anak desain, lagian kenapa enggak menyatukan ide desain kita (weiitz gaya!). Setelah lamaaaa berproses desain tiba-tiba muncullah sepucuk surat dari universitas x di Surabaya yg menyatakan aku diterima sebagai mahasiswa psikologi disana. Dan yg bikin lebih melek lagi aku diterima di kategori 1. Kategori yg konon katanya tergolong kasta tertinggi dengan biaya yg lebih murah. Nah kan, galau kan? Ditambah lagi minggu berikutnya ada panggilan tes tahap akhir kedokteran karena tes tulisku lolos. Dan itu terjadi semuanya ketika prestasiku membaik. BUMMM!!! Desainku mulai kacau balau, aku nggak punya banyak waktu untuk bantuin partner desainku. Hingga suatu hari.. partner desainku ketemu aku dan tanya tentang itu. Aku cuma bisa senyum njawabnya. Hari itu H-1, dan aku mulai dari pagi sampe sore bantuin ndekor partnerku. Menjelang maghrib kita sholat maghrib bersama. Selesai sholat maghrib ditengah perjalanan menuju sekret paduan suara, terjadilah percakapan tak terduga. Semuanya diawali dari sebuah nyanyian jaman ospek yg asli mengena, yg dinyanyikan partnerku, Bagus.
"Kau temanku, kutemanmu, kita selalu bersama. Seperti mentega dengan rotii.."
Tanpa aba2 air mataku meleleh dan jatuh. Aku nangis tanpa suara. Bagus akhirnya diam. Aku tau dia ngerasain aku nangis disampingnya.
"Maaf Sheil, aku cuma becanda tadi." katanya sambil ngelus kepalaku. "Jangan nangis, kamu nggak akan pindah kan?"
Aku bener-bener nggak sanggup harus njawab pertanyaannya. Kenapa? Karna jadi dokter ato psikolog adalah impianku. Karna nggak sanggup njawab, lari dan beloklah aku ke FTSP. Di lorongnya yg serba hijau ala alam kupuasin air mataku bocor. Aku nggak sanggup kalo kehilangan temen-temenku yg sekarang tapi disisi lain impianku ada jalan setelah tahun lalu aku gagal ujian di beberapa universitas. Ternyata Bagus ngikutin aku. Dia duduk di depanku, menatapku lekat-lekat, dan... yg kulihat darinya adalah bajunya basah, matanya merah, dan raut wajahnya yg biasanya tenang berubah jadi serius. Yaa, dia nangis!
"Bagus, bajumu basah, kenapa kamu juga nangis?" Bagus nggak njawab pertanyaanku. Air matanya makin deras meskipun tanpa suara.
"Ah, nggak perlu dijawab Sheil. Aku tau kok," akhirnya dia angkat bicara. Dia menatap serius mataku lagi. "Kalau kamu beneran pindah dan nggak bisa kesini lagi, biar aku yg nemui kamu. Bolehkah?"
Aku nggak tau harus gimana. Air matamu tulus, dan itu yg bikin aku semakin nangis.
(To Be Continue..)
Kamis, 13 November 2014
Sabtu, 05 April 2014
A Piece of Nirmana
Tugas nirmana tahun pertama itu sangat sesuatu sekali, karna seumur-umur aku baru tau ada hal begini rupa
Itu tugas pertama, dan... inilah produk gagal. hahaaaa...
Kalo yg ini lain lagi. Ini tugas uts. Simple but hurtable.
Well, next berikutnya ini tugas menjelang uas yg sekiranya sangat.. yah sangat ruwet
Dan... akhirnya sampailah pada tahap uas
Yeah inilah sebuah cerita di bangku kuliah tentang mata kuliah nirmana atau bisa berlabel lain yaitu estetika rupa.
Semoga bermanfaat dan semoga bisa menjadi inspirasi. See ya'
Langganan:
Komentar (Atom)
.jpg)